Kebangkitan nama Al-Ittihad Jeddah sebagai topik yang ramai dibicarakan berakar pada kombinasi hasil pertandingan yang berfluktuasi, tekanan terhadap kursi pelatih, dan ledakan percakapan di media sosial. Klub asal Arab Saudi ini menjadi salah satu tim yang paling banyak diperbincangkan penggemar sepak bola, termasuk di Indonesia, menurut pantauan Google Trends Indonesia yang diperbarui 24 Oktober 2026. Pertanyaannya sederhana: mengapa sorotan itu muncul sekarang, bukan pada musim-musim sebelumnya? Jawabannya terletak pada rangkaian peristiwa dalam beberapa pekan terakhir.
AFC Champions League Elite, atau ACL Elite, adalah kompetisi antarklub paling bergengsi di Asia yang mempertemukan juara-juara liga dari berbagai negara. Pada 26 Oktober 2026, Al-Ittihad meraih kemenangan pertama mereka di musim ini dengan skor 2-1. Gol kemenangan lahir dari tendangan bebas langsung Youssef En-Nesyri pada menit ke-90, sementara Houssem Aouar menyamakan kedudukan pada menit ke-34. Sumber-sumber menyebut nama lawan secara berbeda, ada yang menulis Neftchi Fergana dari Uzbekistan dan ada yang menulis Navbahor, namun skor akhirnya sama.
Pada 30 Oktober 2026, Al-Ittihad hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan tuan rumah Abha di Stadion Kota Olahraga Pangeran Sultan bin Abdul Aziz dalam pekan ke-12 Liga Roshn Saudi. Aouar mencetak gol pada menit ke-52, tetapi Abha menyamakan kedudukan pada menit ke-87. Pelatih Jens Wiesing menyebut hasil ini sangat mengecewakan dan mengakui timnya tidak tampil dengan karakter biasa. Hasil ini menjadi pukulan karena Abha berada di dasar klasemen.
Sebelum rentetan tersebut, Al-Ittihad sempat menelan dua kekalahan yang memicu sorotan tajam. Mereka kalah 2-3 dari Al-Hilal pada 10 atau 11 Oktober 2026, lalu kalah 1-2 dari Shabab Al Ahli Dubai di ajang ACL pada 14 Oktober 2026. Setelah itu, mereka bangkit dengan menang 4-1 atas Al-Ettifaq dan 2-0 atas Al Diriyah. Pola naik-turun inilah yang membuat performa tim menjadi bahan perbincangan panjang.
Salah satu pemicu utama tren adalah tagar #IttihadDeservesBetter yang menempati peringkat pertama di Arab Saudi dan peringkat kedua secara worldwide di Twitter atau X. Tagar ini menjadi sinyal ketidakpuasan suporter terhadap arah tim. Pada 12 Oktober, suporter juga menggalang tagar dukungan menjelang laga kontra Shabab Al-Ahli UAE. Konten TikTok dan Instagram seputar tim turut mencatat puluhan ribu interaksi.
Manajemen Al-Ittihad menegaskan tidak ada rencana memecat Jens Wissing meski hasil negatif terjadi di liga dan Asia. Pelatih asal Jerman ini menandatangani kontrak sejak Juli 2026 hingga 2028. Catatan penting: sumber menyebut nama pelatih dengan dua ejaan berbeda, Jens Wiesing dan Jens Weißing, sehingga pembaca perlu berhati-hati. Sikap manajemen yang bertahan ini menjadi salah satu alasan mengapa isu pelatih terus menjadi topik hangat.
Selain soal pelatih, Al-Ittihad juga kehilangan bek kanan Ahmed Al Julaidan yang harus menjalani rehabilitasi karena cedera kaki. Steven Bergwijn sempat absen dan baru kembali setelah pulih dari cedera radang usus. Absennya pemain-pemain ini memperkuat kesan bahwa tim sedang menghadapi masa sulit. Kondisi skuad yang tidak lengkap menjadi salah satu faktor yang dikaitkan dengan inkonsistensi penampilan.
Peringkat Al-Ittihad di Saudi Pro League menemani sorotan publik. Data per 30 Oktober 2026 menunjukkan mereka berada di posisi keempat dengan 24 poin, hasil dari 12 pertandingan dengan catatan 3 imbang dan 1 kalah. Pada 3 November, mereka dijadwalkan menghadapi Al Ain di ACL Elite, lalu menjamu NEOM di liga pada 6 November. Jadwal padat ini membuat sorotan diprediksi belum akan surut dalam waktu dekat.
Kontras antara laga melawan Abha dan kemenangan dramatis di ACL Elite menunjukkan dua wajah Al-Ittihad dalam waktu berdekatan. Di level Asia, kemenangan atas lawan dari Uzbekistan tersebut menjadi titik terang musim ini. Namun, kegagalan mempertahankan keunggulan melawan tim juru kunci justru meninggalkan tanda tanya besar. Perbedaan performa inilah yang membuat narasi tentang tim semakin sulit diprediksi.
Youssef En-Nesyri memimpin daftar pencetak gol Al-Ittihad dengan 7 gol pada periode yang tercatat dalam sumber. Di belakangnya, George Ilenikhena mencatatkan 6 gol dan 3 assist. Meski begitu, dalam laga melawan Abha, Ilenikhena justru dimulai dari bangku cadangan. Statistik individu yang menonjol ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana komposisi serangan sebaiknya disusun.
Kabar seputar Al-Ittihad menyebar tidak hanya di Arab Saudi, tetapi juga di Indonesia. Google Trends Indonesia yang diperbarui 24 Oktober 2026 mencatat Al-Ittihad Jeddah sebagai topik pencarian hangat di tanah air. Fenomena ini menunjukkan bahwa penggemar bola nasional memperhatikan pergerakan klub-klub Liga Arab Saudi. Nama-nama besar dan cerita drama menjadi daya tarik tersendiri bagi khalayak luas.
Di ACL Elite, posisi Al-Ittihad belum ideal. Data yang tercatat menunjukkan mereka berada di peringkat ke-11 dengan 1 poin setelah hasil imbang 1-1 melawan Al Shamal dan kalah 1-2 dari Shabab Al Ahli. Dengan banyak pertandingan masih menyisakan waktu, peluang untuk memperbaiki posisi tetap terbuka. Namun, hasil imbang dan kekalahan itu memperlihatkan tantangan berat di level kontinental.
Susunan pemain melawan Abha pada 30 Oktober 2026 terdiri dari Rajković di bawah mistar, Al Shanqeeti, Danilo Pereira, Al Mousa, dan Ayedi di lini belakang. Di tengah ada Moukhtar Ali, Richard Ríos, Aouar, dan Wijnaldum, lalu Bergwijn dan En-Nesyri di depan. Rotasi ini menunjukkan pelatih mencoba berbagai kombinasi ketika menghadapi jadwal padat. Keputusan rotasi sering menjadi sorotan suporter ketika hasil tidak sesuai harapan.
Suporter Al-Ittihad menunjukkan energi besar di media sosial, mulai dari tagar protes hingga tagar dukungan. Tagar #IttihadDeservesBetter yang menempati peringkat pertama di Arab Saudi adalah sinyal bahwa basis penggemar menginginkan perubahan. Pada 12 Oktober, mereka juga menggalang tagar dukungan sebelum laga melawan Shabab Al-Ahli UAE. Interaksi di TikTok dan Instagram yang mencapai puluhan ribu menunjukkan betapa besar perhatian publik digital.
Kombinasi antara performa tim dan keviralan di dunia maya menciptakan efek saling memperkuat. Ketika hasil kurang memuaskan, tagar protes meningkat, lalu media menulis tentang dampaknya pada citra klub. Sebaliknya, kemenangan dramatis seperti gol menit ke-90 En-Nesyri segera menyebar luas. Dinamika ini membuat Al-Ittihad terus muncul di percakapan publik dari pekan ke pekan.
Dua kekalahan pada pertengahan Oktober 2026, yaitu dari Al-Hilal dan Shabab Al Ahli Dubai, menjadi titik mula sorotan intensif. Setelah itu, kemenangan 4-1 atas Al-Ettifaq dan 2-0 atas Al Diriyah memberi sedikit ruang bernapas. Namun, hasil imbang melawan Abha kembali memicu kekhawatiran. Pola seperti ini menunjukkan bahwa stabilitas menjadi tantangan utama bagi tim.
Manajemen memilih mempertahankan pelatih dengan kontrak hingga 2028, sebuah keputusan yang dikaitkan dengan keinginan menjaga stabilitas jangka panjang. Pilihan ini tentu punya risiko dan peluang: stabilitas bisa membantu proses, tetapi hasil buruk berkelanjutan bisa menambah tekanan. Setiap keputusan semacam ini akan diuji lewat hasil di liga dan Asia. Publik akan terus mencermati apakah strategi tersebut berbuah.
Kehilangan Ahmed Al Julaidan dan sempat absennya Steven Bergwijn membuat kedalaman skuad teruji. Bergwijn kembali setelah pulih dari cedera radang usus, sementara Al Julaidan masih menjalani rehabilitasi cedera kaki. Absennya pemain kunci sering kali mengubah peta kekuatan tim, terutama ketika jadwal kompetisi sedang padat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menjelaskan inkonsistensi performa.
Ke depan, Al-Ittihad akan menghadapi Al Ain di ACL Elite pada 3 November dan NEOM di liga pada 6 November. Kedua laga ini akan menjadi ujian nyata bagi pelatih dan para pemain untuk membuktikan kemampuan bangkit. Hasil dari dua pertandingan tersebut berpotensi mengubah narasi yang beredar di media sosial. Penggemar tentu menantikan apakah tim mampu menemukan konsistensi yang selama ini dicari.
Sorotan terhadap Al-Ittihad muncul dari kombinasi gol kemenangan dramatis En-Nesyri di Asia, hasil imbang 1-1 melawan juru kunci Abha, tekanan atas pelatih, serta tagar #IttihadDeservesBetter yang meledak di media sosial. Dengan posisi keempat di liga, peringkat ke-11 di ACL Elite, dan sejumlah pemain yang baru pulih dari cedera, perjalanan tim masih panjang. Apakah badai sorotan ini akan mereda atau justru berlanjut, akan sangat bergantung pada hasil di laga-laga berikutnya.