Al-Ahli Saudi FC sedang menjadi bahan pembicaraan karena kekalahan terburuk dalam sejarah keikutsertaannya di Liga Roshn Saudi. Pada pekan ke-12, klub ini dihancurkan Al-Shabab dengan skor 6-1 di Riyadh, menurut laporan goal.com yang mengutip catatan liga. Kekalahan itu melampaui rekor buruk sebelumnya, yaitu kalah 2-6 dari Al-Ettifaq pada musim 2018-2019. Pertandingan berlangsung Jumat 30 Oktober 2026 waktu setempat, atau Sabtu 31 Oktober 2026 dini hari waktu Indonesia.
Al-Shabab membuka keunggulan sangat cepat lewat Ricardo Matias pada menit ke-2, setelah ia merebut bola dari bek Rayan Hamed. Laporan SPA juga mencatat gol itu terjadi pada menit ke-2, dan Okaz menulis hal serupa. Gol cepat ini langsung menempatkan Al-Ahli dalam posisi mengejar sepanjang laga. Tekanan bertambah karena Al-Shabab terus memanfaatkan celah di lini belakang.
Titik balik pertandingan terjadi pada menit ke-22 ketika kiper Al-Ahli, Abdulrahman Al-Sanbi, mendapat kartu merah langsung menurut laporan SPA. Al-Ahli harus bermain dengan sepuluh orang untuk sisa pertandingan. Goal.com mencatat tambahan masalah: Edouard Mendy tidak berada di bangku cadangan, sehingga Abdullah Abdu dimasukkan sebagai pengganti. Kombinasi ini membuat struktur pertahanan Al-Ahli semakin rapuh.
Yannick Carrasco mencetak gol pertama lewat tendangan bebas pada menit 25 atau 26, sesuai catatan ajel.sa. Roger Martinez menambah gol dari titik penalti pada menit 37. Al-Ahli sempat memperkecil lewat Feras Al-Buraikan pada menit 40. Namun Ricardo Matias mencetak gol keduanya pada menit 48, memulihkan jarak yang lebar sebelum paruh kedua berjalan jauh.
Carrasco melengkapi hat-trick lewat dua penalti pada menit 66 dan menit 82, menurut laporan Okaz. Dengan tiga gol itu, ia menjadi pencetak gol terbanyak dalam laga tersebut. Al-Shabab menutup pertandingan dengan enam gol tanpa balas di babak kedua. Al-Ahli hanya mampu mencetak satu gol sepanjang laga.
Hasil ini mengubah posisi kedua tim di klasemen Liga Roshn Saudi. Al-Shabab naik ke 14 poin dan menempati peringkat ke-10, menurut data SPA. Al-Ahli tertahan di 21 poin dan tetap berada di peringkat keenam. Jarak poin itu menunjukkan Al-Ahli belum kehilangan posisi papan atas, tetapi laju mereka terganggu.
Al-Ahli tampil tanpa Ivan Toney, penyerang yang menurut Tribunnews memimpin daftar top skorer liga dengan 13 gol. Pengadilan Mahkota Southwark di London membuat ia tidak bisa dimainkan karena persidangan atas tuduhan pemukulan. Ia dijadwalkan menyusul tim ke Qatar untuk laga melawan Al-Sadd. Absennya Toney mengurangi opsi serang Al-Ahli di laga itu.
Lokasi pertandingan dilaporkan berbeda antar sumber. goal.com dan SPA menyebut Stadion Al-Shabab Club, sementara Tribunnews menulis King Fahd Stadium. Perbedaan ini perlu dicatat karena tidak semua laporan menyebut venue yang sama. Pembaca sebaiknya merujuk laporan resmi liga atau SPA untuk memastikan detail tersebut.
Pelatih Al-Ahli, Marino Pusic, bereaksi keras ketika ditanya apakah laga itu menjadi yang terakhir baginya. Ia menjawab bahwa pewawancara seharusnya malu dengan pertanyaan tersebut. Pusic menyebut banyak kesalahan individu terjadi dan meminta maaf kepada suporter. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi soal posisinya.
Pusic menangani Al-Ahli sejak awal musim ini, menggantikan Matthias Jaissle. Menurut Goal.com, catatannya sejauh ini adalah 17 laga dengan 11 kemenangan, 5 kekalahan, dan 1 hasil imbang. Rasio itu menunjukkan performa yang tidak buruk secara keseluruhan, meski kekalahan terbaru menjadi sorotan. Tekanan publik biasanya meningkat setelah hasil ekstrem seperti ini.
Selain isu lapangan, ada sejumlah kabar non-lapangan yang ikut mendorong nama Al-Ahli naik. Menurut situs resmi klub, Al-Ahli memperpanjang sponsor Berain Water hingga pertengahan 2028 pada 24 Oktober. Klub juga menandatangani kemitraan medis lima tahun dengan My Clinic pada 20 Oktober. Kedua kesepakatan ini menunjukkan aktivitas komersial klub tetap berjalan.
Al-Ahli juga menunjuk staf teknis baru untuk tim voli dengan pengalaman internasional pada 28 Oktober, menurut situs resmi klub. Langkah ini memperlihatkan klub mengembangkan cabang olahraga di luar sepak bola. Namun, perhatian publik saat ini masih didominasi hasil buruk tim sepak bola. Pemberitaan soal voli biasanya tidak sebesar isu kekalahan di liga.
Laga berikutnya bagi Al-Ahli adalah tandang ke Al-Sadd Qatar di Liga Champions Asia Elite. Jadwal itu disebut SPA sebagai pertandingan hari Senin setelah kekalahan dari Al-Shabab. Ini menjadi kesempatan cepat untuk bangkit sebelum kembali ke kompetisi domestik. Hasil di laga ini bisa mempengaruhi suasana internal klub.
Kekalahan 6-1 menimbulkan pertanyaan soal konsentrasi dan disiplin pemain. Kartu merah kiper pada menit 22 membuat Al-Ahli bermain dengan sepuluh orang selama lebih dari 70 menit. Kondisi itu memperbesar peluang lawan mencetak gol tambahan. Kesalahan individu yang disebut Pusic menjadi bagian dari penjelasan tersebut.
Absennya Toney dan cedera atau ketidakhadiran pemain lain memaksa Al-Ahli menyesuaikan formasi. Tanpa penyerang utama, beban mencetak gol jatuh ke pemain lain seperti Feras Al-Buraikan. Ia mencetak satu-satunya gol Al-Ahli pada menit 40. Namun satu gol tidak cukup ketika pertahanan kebobolan enam kali.
Hasil buruk ini bisa mempengaruhi kepercayaan diri pemain menjelang jadwal padat. Pertandingan liga dan Asia berlangsung dalam waktu berdekatan, sehingga pemulihan fisik dan mental menjadi kunci. Staf pelatih perlu memutuskan apakah tetap dengan pendekatan yang sama atau melakukan penyesuaian. Keputusan ini akan terlihat pada susunan pemain di laga berikutnya.
Bagi penggemar yang mengikuti Al-Ahli, penting membedakan antara laporan resmi klub dan laporan media. Situs resmi klub memuat informasi sponsor, kemitraan, dan staf, sementara hasil pertandingan biasanya dirilis oleh liga atau kantor berita seperti SPA. Perbedaan detail kecil, seperti venue pertandingan, bisa muncul karena perbedaan waktu pelaporan. Membandingkan beberapa sumber membantu mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Kekalahan terbesar dalam sejarah liga menjadi alasan utama nama Al-Ahli ramai dibicarakan. Rekor sebelumnya, yaitu kalah 2-6 dari Al-Ettifaq pada musim 2018-2019, kini tergantikan. Perbandingan ini memberi konteks seberapa tidak biasanya hasil tersebut. Sejarah mencatat laga ini sebagai titik terburuk dalam catatan liga klub.
Posisi Al-Ahli di peringkat keenam dengan 21 poin masih di atas Al-Shabab yang berada di peringkat ke-10 dengan 14 poin. Artinya, secara klasemen Al-Ahli belum terpuruk, meski kekalahan terbaru sangat mencolok. Selisih poin dengan tim di atasnya akan menentukan peluang mereka bersaing di papan atas. Pertandingan berikutnya menjadi krusial untuk menjaga jarak.
Secara keseluruhan, tren nama Al-Ahli muncul dari kombinasi hasil buruk di lapangan, reaksi pelatih, absennya Toney, dan aktivitas klub di luar lapangan. Laporan dari goal.com, SPA, Okaz, ajel.sa, Tribunnews, dan situs resmi klub membentuk gambaran yang saling melengkapi. Pembaca disarankan mengikuti sumber resmi untuk perkembangan terbaru, termasuk hasil laga melawan Al-Sadd. Dengan begitu, informasi yang diterima tetap akurat dan tidak sekadar mengikuti ramainya perbincangan.